Ngobrolin Peluang Mobil Listrik di Indonesia di Tahun 2021

jbkderry – Wacana atau sederhananya obrolan soal mobil listrik di Indonesia sudah rahasia umum semakin marak sepanjang setahun terakhir ini.

Topik soal mobil listrik pun menjadi narasi pertama dari media kelas secangkir kopi ini pada tahun 2021 ini, simak saja narasinya di artikel berjudul ERA MOBIL LISTRIK YANG SEMAKIN TIDAK TERBENDUNG DI INDONESIA.

Lalu pada 14 Januari 2020 di situs media mainstream CNBC Indonesia ada sebuah artikel berjudul “RI Berambisi Hampir Setengah Juta Mobil Listrik di 2025“, dimana pada artikel tersebut yang menjadi narasumber adalah Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Ilmate) Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier.

Realistis atau wajar kah target pemerintah itu?

Mari kita kembali mundur kembali ke belakang sejenak, sebelum melihat probabilitasnya ke depan.

Angir segar ini dimulai pada 12 Agustus 2019, setelah Presiden Jokowi mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai, yang kemudian menjadi aturan awal yang disebut sebagai payung hukum kendaraan listrik Indonesia.

Setelah itu, masih ada peraturan-peraturan susulan dari pemerintah yang lebih mengkerucutkan atau mempertegas jalan industri pengembangan kendaraan listrik. Media kelas secangkir kopi ini tidak membahasnya mendetail mengenai hal itu pada kesempatan ini, namun jika masih penasaran silakan masukkan kata kunci ini “peraturan pemerintah mobil listrik” di mbah Google.

Pada realisasi di sektor industri, atmosfer pengembangan mobil listrik di Indonesia pun semakin terasa pada tahun 2021 ini, seiring dua pabrikan raksasa asal Asia yaitu Toyota dan Hyundai sudah berkomitmen untuk mengembangkan mobil listrik di Indonesia mulai tahun ini, dengan nilai investasi masing-masing jika dikonversi ke rupiah ada pada kisaran Rp 28 triliun dan Rp 21,8 triliun.

Besar banget? Tunggu dulu, lihat nilai investasi LG Energy Solution untuk pengembangan baterei mobil listrik yang sedianya dipusatkan di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang – Jawa Tengah yang jika dikonversi ke rupiah senilai Rp 142 triliun.

Belum lagi soal rencana Tesla yang akan mengirim perwakilannya ke Indonesia pada Februari 2021.

Itu dari kacamata atau sudut pandang kebijakan pemerintah dan pelaku industrinya, lantas bagaimana jika melihatnya dari sudut pandang potensial konsumen?

Nah ini yang menarik, melihat di tahun 2020 lalu pasar mobil baru di Indonesia mengalami kemerosotan sekitar 48,3% dibanding angka pencapaian di tahun 2019. Simak artikel Ngobrolin Pasar Mobil Baru 2020 & Runtuhnya Singgasana Sang Raja.

Tantangan disrupsi, ancaman resesi, tekanan penyebaran pagebluk yang meninggi, serta perubahan orientasi belanja dari kalangan pembeli muda (Millenial dan Post-Millenial) adalah tantangan berat masih menanti di tahun 2021 ini.

Lantas apakah, kondisi pasar mobil baru di tahun 2021 akan lebih buruk atau setidaknya sama dengan tahun 2020 lalu? Ada beberapa kemungkinan analisis kelas secangkir kopi yang bisa mengubah prospek positif di tahun 2021.

Pertama, adalah statement Presiden Jokowi pada hari Sabtu 16 Januari 2021, jika periode vaksinasi yang telah dimulai pada 13 Januari 2021 bisa jadi game changer atau sederhananya hal yang bisa menggairah banyak hal, termasuk kepercayaan publik untuk kembali berbisnis dan berbelanja lagi.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Jokowi menyampaikan harapannya jika periode vaksinasi di Indonesia bisa selesai pada tahun 2021 ini.

Ya, sebuah target yang bisa dikatakan sangat muluk, jika melihat kondisi sosial politik yang masih saja bergejolak di masyarakat.

Kedua, prospek atau kans terbaik adalah jika para pelaku industri yang mengembangkan mobil listrik bisa menghadirkan mobil listrik dengan kualifikasi harga yang mendekati harga psikologis mayoritas konsumen di Indonesia saat ini, yaitu maksimal di angka Rp 300 juta per unit.

Saat narasi kelas secangkir kopi ini dibuat nyatanya sudah ada desas-desus soal Toyota Avanza versi mobil listrik. Jika itu benar bisa direalisasikan Toyota, bisa jadi angkanya tidak melewati batas atas angka harga psikologis tadi, ataupun kalaupun tembus tentu diharapkan tidak banyak lebihnya dari angka psikologis Rp 300 juta per unit tadi.

Pasalnya, dari beberapa literasi yang jbkderry kumpulkan, biaya pengembangan baterei mobil listrik sendiri kabarnya mencapai 20% dari biaya pengembangan mobil baru berteknologi listrik itu sendiri.

Pertanyaannya kemudian bisa kah hal itu dilakukan oleh Toyota atau Hyundai, atau mungkin Tesla? Karena jika tidak, upaya memasyarakatkan mobil listrik di Indonesia tentu masih jauh panggang dari api menuju target 500 ribu unit pada tahun 2025.

Kenapa? Sederhana, simak saja harga mobil listrik termurah saat ini harganya sudah Rp 650 juta per unit, yaitu Hyundai IONIQ Electric.

Bagaimana menurut kalian, guys? Silakan tinggalkan komentar di bawah jika berkenan. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mampir…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: